Saran dan Masukan Bidang Sabo Draft Buku Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim
November 2, 2011 Leave a Comment
Sebagai upaya mendukung Mitigasi dan Adaptasi Peubahan iklim, khususnya dalam Bidang Sumber Daya Air, maka dirasa perlu untuk menjabarkan rencana aksi di Bidang Sabo dalam 5 Pilar Utama sebagai berikut:
- Konservasi Daerah Aliran Sungai
Pengembangan Teknologi Sabo diselaraskan dengan Gerakan Nasional Penyelamatan Air.
- Menejemen Dataran Banjir
Pengembangan teknologi pengelolaan dataran sungai yang memperhatikan Karakter dan Periode Banjir.
- Teknologi Sabo Aman Lingkungan
Pengembangan infrastruktur sabo dengan teknologi yang mengakomodasi Emisi Karbon Minimal dan Zero Waste.
- Tim Tanggap Darurat Fenomena Bencana Sedimen
Akselerasi peningkatan Human Capacity untuk merekam tipologi bencana sedimen yang sedang terjadi.
- Rasionalisasi Data untuk Teknologi Peringatan Dini
Meningkatkan keandalan Laboratorium dan pengelolaan data untuk meningkatkan Peranan Balai Sabo sebagai Scientific Baackground Teknologi Sabo di Indonesia.
Contoh Proposal Rencana Aksi
ECO-PARK KALI SOPALAN SEBAGAI DAS MIKRO PERCONTOHAN UNTUK MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM
Pendahuluan
Salah satu permasalahan yang krusial yang dipengaruhi oleh pemanasan global tersebut adalah ketersedian air. Ketersediaan air merupakan issu milenium ini yang jika tidak dikelola denganbaik dapat menyebabkan konflik masyarakat.
Keadaan manajemen air di Indonesia pada saat ini termasuk dalam kategori yang kurang baik. Bila dibiarkan hal ini akan menyebabkan persoalan yang tidak menguntungkan, oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan yang sistematis dan terencana. (http://www.wwf.or.id/berita_fakta/reports/?10340/Dampak-Perubahan-Iklim-terhadap-Pengelolaan-DAS-Citarum)
Permasalahan
Vörösmarty et al. (2000) menunjukan bahwa masalah air terjadi karena adanya peningkatan penduduk bumi sehingga meningkatkan pula kebutuhan air. Kebutuhan yang meningkat akan semakin menekan pada sistem air global yang berkaitan dengan efek pemanasan global. Peningkatan jumlah penduduk dan ekonomi menjadi pendorong utama kebutuhan air, sementara itu ketersediaannya dipengaruhi oleh peningkatan evaporasi (penguapan) akibat peningkatan temperatur permukaan bumi.
Para pengambil keputusan membutuhkan suatu kajian yang dapat memberikan contoh pengelolaan DAS yang mampu menjembatani fungsi sosial, lingkungan, dan ekonomi dari sumber daya air sehingga dapat diaplikasikan di daerah lain.
Tujuan
Kajian ini dibuat untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap karakteristik DAS Mikro percontohan. Penelitian ini memberikan jawaban atas kebutuhan analisis penerapan teknologi menejemen DAS yang adaptfi terhadap perubahan iklim yang selanjutnya akan mempengaruhi variabel-variabel yang terkait dengan sistem kesetimbangan air dan manajemen air secara terintegrasi. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang manajemen subdas mikro yang mitigatif dan adaptif terhadap dampak dari perubahan iklim yang selanjutnya dapat digunakan untuk rekomendasi rencana pembangunan berkelanjutan.
Metodologi
Daerah kajian dalam penelitian ini adalah Sub Das Mikro Kali Sopalan, Balai Sabo, Sopalan Maguwoharjo, Depok Sleman, Yogyakarta.
Pembentukan Sub Das Percontohan ini diupayakan melibatkan masyarakat sekitar yang sehari-hari mencafi nafkah di area tersebut. Untuk menghindari para broker, maka diperlukan pendataan jauh sebelum penelitian dilaksanakan, dalam periode yang rasional.
Diukur perubahan muka air tanah di masing masing sumur penduduk sebelum dan sesudah teknologi sabo konservasi air dilaksanakan.
Diamati dinamika morfologi sungai, hidrologi, hidraulika, dan transportasi sedimen di lokasi tersebut.
Diukur kapasitas DAS dalam mendukung kebutuhan warga masyarakat sekitar akan sumber daya air.
Pustaka Acuan
Sepuluh tahun perjalanan negosiasi konvensi perubahan iklim, books.google.co.id, Daniel Murdiyarso - 2003











The debris flow that occurred at Kamikamihori valley in Mt.Yakedake (August 3, 1976)
The debris flow that occurred in the Nojiri river in Sakurajima, Kagoshima Prefecture (July 2-3, 1985)



(1)The dam allows sediment to flow downstream under normal conditions. areas.
(2)When a large scale debris flow occurs, sediment is captured and temporarily held here to prevent disasters in downstream



